Kenapa Hermès Tidak Punya Brand Ambassador? Ini Strategi di Baliknya!
Ketika banyak brand luxury berlomba menggandeng artis, selebriti, hingga influencer ternama sebagai brand ambassador, Hermès justru memilih jalan yang berbeda. Nama-nama besar memang kerap terlihat menggunakan produk Hermès, tetapi brand asal Prancis ini tidak mengandalkan sosok brand ambassador resmi untuk merepresentasikan identitasnya.
Lalu, kenapa Hermès tidak punya brand ambassador? Apakah strategi tersebut memang disengaja untuk mempertahankan eksklusivitas dan citra mewahnya? Atau justru Hermès memiliki cara lain untuk membangun popularitas dan menciptakan keinginan konsumen terhadap produknya?
Strategi Hermès menarik untuk dipelajari karena menunjukkan bahwa influencer marketing dan celebrity endorsement bukan satu-satunya cara bagi sebuah brand untuk membangun awareness. Dengan pendekatan yang lebih selektif, Hermès berhasil mempertahankan image eksklusif sekaligus tetap menjadi salah satu nama paling dikenal di industri luxury fashion.
Lantas, strategi apa yang sebenarnya digunakan Hermès untuk membangun brand prestige tanpa mengandalkan brand ambassador? Yuk, simak pembahasannya berikut ini!
5 Alasan Hermès Tidak Punya Brand Ambassador
Brand asal Prancis ini dikenal tidak mengandalkan celebrity ambassador besar sebagai wajah utama brand seperti yang dilakukan sejumlah luxury house lainnya. Bahkan, Vogue Business menggambarkan Hermès sebagai brand yang membangun bisnisnya tanpa celebrity ambassador besar dan tanpa kampanye marketing yang terlalu mencolok.
Lalu, mengapa Hermès memilih strategi tersebut? Ternyata, keputusan ini sangat berkaitan dengan cara Hermès membangun nilai, eksklusivitas, dan hubungan dengan konsumennya. Berikut lima alasan yang bisa menjelaskan strategi tersebut.

1. Hermès Lebih Mengutamakan Produk dan Craftsmanship
Salah satu kekuatan utama Hermès adalah craftsmanship atau keahlian dalam membuat produknya. Hermès sendiri menjelaskan bahwa strateginya bertumpu pada creation, craftsmanship, dan exclusive distribution network. Brand ini menempatkan kualitas, kreativitas, durability, dan keahlian artisan sebagai bagian penting dari identitasnya.
Karena itu, Hermès tidak harus menjadikan seorang selebriti sebagai pusat perhatian. Produk dan proses pembuatannya sendiri sudah menjadi bagian penting dari cerita brand.
Contohnya dapat dilihat pada produk leather goods Hermès. Nilai sebuah tas tidak hanya berasal dari logo atau siapa yang menggunakannya, tetapi juga dari material, craftsmanship, desain, serta proses pembuatannya.
Pendekatan ini berbeda dengan strategi endorsement yang menjadikan popularitas seseorang sebagai salah satu daya tarik utama campaign.
Artinya, Hermès lebih banyak menjual cerita tentang produk dan craftsmanship daripada menjual popularitas seorang ambassador.
2. Eksklusivitas Adalah Bagian dari Strategi Brand
Hermès dikenal dengan strategi yang menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan produk. Vogue mencatat bahwa Hermès mempertahankan eksklusivitas dengan mengontrol produksi, sementara permintaan terhadap produk ikonik seperti Birkin dan Kelly tetap sangat tinggi.
Strategi ini penting karena luxury brand tidak selalu membutuhkan sebanyak mungkin orang untuk melihat atau membeli produknya.
Justru sebaliknya, rasa langka dan sulit diperoleh dapat meningkatkan daya tarik produk.
Jika sebuah brand terlalu sering menggunakan celebrity endorsement atau campaign massal, eksposurnya memang dapat meningkat. Namun, bagi Hermès, terlalu banyak eksposur tidak selalu sejalan dengan citra eksklusif yang ingin dipertahankan.
Karena itu, Hermès cenderung memilih pendekatan yang lebih selektif dalam membangun visibility.
3. Hermès Ingin Menjaga Identitas Brand Tetap Lebih Kuat daripada Identitas Selebriti
Ketika sebuah brand menunjuk seorang celebrity sebagai global ambassador, figur tersebut biasanya ikut menjadi bagian besar dari komunikasi brand. Hal ini dapat memberikan keuntungan karena celebrity memiliki fanbase dan perhatian publik yang besar.
Namun, ada konsekuensinya: perhatian konsumen bisa saja lebih tertuju kepada figur tersebut daripada brand itu sendiri.
Hermès mengambil pendekatan yang berbeda. Brand ini memiliki identitas yang sudah sangat kuat melalui sejarah, craftsmanship, desain, dan produk ikoniknya. Strategi resminya juga menekankan nilai seperti authenticity, craftsmanship, creative freedom, dan responsible growth.
Dengan kata lain, Hermès tidak perlu menjadikan satu figur sebagai "wajah utama" untuk membuat orang mengenali brand tersebut.
Hal ini juga membuat identitas Hermès tidak terlalu bergantung pada popularitas atau citra satu selebriti.
Baca Juga: 5 Cara Mendapatkan Brand Mention dari Influencer dan Content Creator
4. Hermès Lebih Mengandalkan Brand Experience dan Hubungan Langsung dengan Konsumen
Strategi Hermès tidak hanya berpusat pada komunikasi melalui iklan. Brand ini juga membangun pengalaman melalui jaringan toko yang dikelola sendiri dan hubungan langsung dengan pelanggan.
Menurut informasi resmi Hermès, lebih dari 92% revenue pada 2025 berasal dari jaringan distribusi eksklusifnya, dengan 294 toko di seluruh dunia. Setiap toko menawarkan pilihan produk yang dipersonalisasi untuk kebutuhan pelanggan di masing-masing lokasi.
Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman konsumen merupakan bagian penting dari model bisnis Hermès.
Jadi, daripada mengandalkan seorang ambassador untuk menjadi penghubung antara brand dan audiens, Hermès dapat membangun hubungan melalui produk, toko, pelayanan, storytelling, dan pengalaman pelanggan.
Pendekatan tersebut sangat sesuai dengan karakter luxury brand yang mengutamakan personal experience dan hubungan jangka panjang.
5. Hermès Menggunakan Pendekatan Marketing yang Lebih Subtle
Alasan terakhir adalah cara Hermès berkomunikasi dengan audiens.
Vogue pernah menggambarkan pendekatan Hermès sebagai bentuk understated luxury brand building. Bahkan dalam berbagai aktivitas komunikasinya, Hermès tidak selalu menggunakan pola marketing yang terlihat sangat komersial. Brand ini dapat menggunakan seni, storytelling, pertunjukan, dan pengalaman sebagai cara untuk memperkenalkan dunia Hermès kepada audiens.
Contohnya adalah pertunjukan On the Wings of Hermès di Los Angeles. Alih-alih membuat kampanye promosi konvensional, Hermès menghadirkan pertunjukan artistik yang secara halus memasukkan berbagai elemen produknya ke dalam pengalaman tersebut.
Pendekatan seperti ini membuat komunikasi Hermès terasa lebih seperti brand experience daripada iklan langsung.
Inilah yang membedakan Hermès dari strategi influencer marketing yang mengandalkan seorang figur untuk menyampaikan pesan brand secara langsung kepada followers.
Baca Juga: 7 Pengaruh Influencer terhadap Keputusan Pembelian Konsumen
Belajar dari Hermès, Bangun Strategi Influencer Marketing Bersama IAM.ID
Hermès membuktikan bahwa membangun brand yang kuat tidak selalu harus dilakukan dengan menunjuk seorang brand ambassador. Dengan mengandalkan craftsmanship, eksklusivitas, brand identity, pengalaman pelanggan, dan komunikasi yang selektif, Hermès mampu mempertahankan daya tariknya sebagai salah satu luxury brand paling dikenal di dunia.
Namun, bukan berarti influencer marketing tidak relevan untuk brand. Justru, strategi Hermès menunjukkan bahwa figur yang digunakan dalam komunikasi brand harus benar-benar sesuai dengan positioning dan tujuan campaign.
Bagi sebagian brand, bekerja sama dengan influencer yang tepat dapat menjadi cara efektif untuk menjangkau audiens baru, meningkatkan brand awareness, dan membangun kepercayaan konsumen tanpa harus bergantung pada satu brand ambassador.
Ingin menemukan influencer yang tepat untuk brand kamu? Bersama IAM.ID, brand dapat menjalankan influencer marketing dengan lebih terarah melalui pemilihan influencer yang sesuai dengan target audiens dan kebutuhan campaign.
Temukan strategi influencer marketing yang tepat untuk membantu brand kamu membangun awareness dan menjangkau audiens yang lebih relevan. Hubungi kami di sini!



