YouTube Mulai Kalah Cuan? Kisah Farida Nurhan yang Menjual Channelnya 10 M
Belakangan ini, dunia kreator kembali ramai membahas satu hal yang cukup mengejutkan. Seorang food vloger, Farida Nurhan disebut menjual channel YouTube-nya dengan harga sekitar 10 miliar. Bukan tanpa alasan, keputusan ini muncul karena ia mengaku penghasilan dari Facebook dan TikTok lebih besar dibanding YouTube.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar tidak masuk akal, karena YouTube selama ini dikenal sebagai “ladang cuan” utama para kreator. Namun, bagi influencer marketing dan brand, kabar ini justru menjadi sinyal penting bahwa peta monetisasi konten sedang berubah.
Kasus ini membuka pertanyaan besar, apakah YouTube mulai kalah cuan? Atau justru kreator sekarang lebih pintar memilih platform yang paling menguntungkan sesuai jenis kontennya? Temukan jawabannya pada artikel ini.
Top 5 Alasan Farida Nurhan Menjual Akun Youtubenya
Keputusan Farida Nurhan (Omay) untuk menjual akun YouTube miliknya dengan harga 10 miliar menjadi topik hangat, bukan hanya di kalangan penonton, tetapi juga di industri kreator dan influencer marketing.
Yuk simak alasan Omay menjual akun youtubenya, berikut ini!

1. Penghasilan dari YouTube Tidak Sebesar Dulu
Alasan terbesar yang disampaikan Farida adalah pendapatan YouTube yang menurun dan tidak lagi “seindah dulu”. Ia mengungkap bahwa dulu penghasilan AdSense bisa sangat besar, bahkan sempat menyebut angka sekitar 350 juta pada masa awal.
Namun seiring waktu, pendapatan tersebut terus mengalami penurunan. Dalam konteks kreator, ini bisa terjadi karena banyak faktor, mulai dari perubahan CPM, persaingan konten, sampai perubahan algoritma distribusi.
2. Views Menurun, sehingga Pemasukan Ikut Turun
Farida juga menyebut bahwa views YouTube-nya menurun, dan hal ini berdampak langsung pada penghasilan. Ini masuk akal karena monetisasi YouTube melalui AdSense sangat dipengaruhi oleh jumlah penonton dan performa konten.
Ketika views turun, maka potensi pendapatan iklan pun ikut melemah. Bagi kreator yang terbiasa memproduksi konten dengan biaya tinggi, penurunan views bisa menjadi pertimbangan serius untuk mengganti strategi.
3. Facebook dinilai Lebih Menguntungkan
Salah satu pernyataan yang cukup menonjol adalah Farida mengaku penghasilannya di Facebook lebih besar dibanding YouTube. Ia menyampaikan bahwa platform tersebut terasa lebih “menggiurkan” secara pendapatan, sehingga ia memilih untuk memaksimalkan peluang monetisasi di sana.
Ini sejalan dengan fenomena banyak kreator yang mulai serius mengembangkan konten di Facebook (terutama video pendek/reels) karena potensi reach dan pendapatan yang dinilai lebih stabil untuk tipe kreator tertentu.
4. TikTok Live dianggap Lebih Cocok untuk Konten Kuliner
Selain Facebook, Farida juga menyebut bahwa ia ingin fokus pada TikTok Live. Live streaming memang memungkinkan kreator mendapatkan pemasukan dari interaksi real-time, sehingga terasa lebih cepat menghasilkan dibanding mengandalkan sistem iklan video yang fluktuatif.
Dari sudut pandang influencer marketing, perpindahan ini juga penting karena TikTok Live membuka peluang format kerja sama baru, seperti live shopping, live review produk, dan campaign berbasis engagement langsung.
5. Keputusan Ini Sudah dipikirkan Lama, Bukan Mendadak
Farida menjelaskan bahwa keinginan untuk berhenti membuat konten YouTube sebenarnya sudah ada sejak sekitar 18 bulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa keputusan menjual channel bukan sekadar strategi viral sesaat, tetapi bagian dari rencana yang lebih panjang.
Ia juga menyampaikan bahwa ia tidak hanya melepas YouTube, tetapi juga aktivitas lain, karena memilih fokus pada arah yang lebih sesuai dengan kondisi dan peluang saat ini.
Dari kasus Farida Nurhan, dapat dilihat bahwa dinamika “cuan” kreator tidak lagi terpaku pada satu platform saja. Penurunan pendapatan YouTube, turunnya views, serta peluang monetisasi yang lebih menarik di Facebook dan TikTok menjadi kombinasi alasan yang mendorongnya mengambil keputusan besar, yaitu menjual channel YouTube.
Bagi brand dan pelaku influencer marketing, ini menjadi pengingat penting bahwa strategi campaign juga perlu semakin fleksibel, dengan pendekatan multi-platform yang menyesuaikan tren audiens dan sumber pendapatan kreator saat ini.
Sesuaikan Strategi Influencer Marketing Anda secara Tepat bersama IAM.ID
Keputusan Farida Nurhan menjual channel YouTube seharga Rp10 miliar menjadi bukti bahwa tren monetisasi kreator terus berubah dan kini tidak lagi bergantung pada satu platform saja.
Perpindahan fokus ke Facebook dan TikTok menunjukkan bahwa kreator dan brand perlu lebih adaptif dalam memilih channel terbaik, format konten yang tepat, serta strategi campaign yang relevan agar hasilnya lebih maksimal, baik untuk awareness maupun conversion.
Saatnya brand Anda fokus pada influencer dan platform yang paling efektif untuk target audiens saat ini. Kolaborasi bersama IAM.ID untuk merancang campaign multi-platform yang relevan, terukur, dan menghasilkan.
Hubungi kami lebih lanjut di sini!



