Berapa Kali Audiens Sebaiknya Melihat Iklan? Yuk Simak Penjelasannya!
Dalam menjalankan iklan digital, menjangkau audiens sebanyak mungkin memang menjadi salah satu tujuan utama. Namun, terlalu sering menampilkan iklan yang sama kepada orang yang sama juga tidak selalu menghasilkan dampak yang lebih baik. Audiens bisa merasa bosan, terganggu, bahkan mengabaikan iklan jika melihatnya berulang kali dalam waktu yang terlalu singkat.
Karena itu, frekuensi iklan (ad frequency) menjadi salah satu metrik penting yang perlu diperhatikan oleh brand dan marketer. Frekuensi menunjukkan seberapa sering rata-rata seseorang melihat iklan dalam sebuah campaign. Memahami frekuensi yang tepat dapat membantu brand menjaga keseimbangan antara membangun awareness dan menghindari ad fatigue.
Lantas, berapa kali audiens sebaiknya melihat iklan agar campaign tetap efektif? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Apa Itu Ad Frequency?
Ad frequency adalah rata-rata berapa kali seorang pengguna melihat iklan yang sama atau campaign tertentu selama periode iklan berlangsung.
Metrik ini biasanya berkaitan dengan reach dan impressions. Reach menunjukkan jumlah orang unik yang melihat iklan, sedangkan impressions menunjukkan total berapa kali iklan ditampilkan.
Secara sederhana, frekuensi dapat dihitung dengan rumus:
Frequency = Total Impressions ÷ Total Reach
Contohnya, sebuah iklan mendapatkan 100.000 impressions dan menjangkau 25.000 orang. Maka frekuensinya adalah:
100.000 ÷ 25.000 = 4
Artinya, rata-rata setiap orang dalam target audiens melihat iklan tersebut sebanyak empat kali.
Baca Juga: Apa itu Algoritma TikTok? Simak Cara Membuat Konten Viral di TikTok
Mengapa Frekuensi Iklan Penting?
Menentukan frekuensi iklan bukan hanya tentang seberapa sering brand ingin muncul di hadapan audiens. Frekuensi juga dapat memengaruhi efektivitas dan pengalaman audiens selama campaign.
Beberapa alasan mengapa ad frequency perlu diperhatikan adalah:

1. Membantu Membangun Brand Awareness
Audiens mungkin tidak langsung mengingat sebuah brand setelah melihat iklan satu kali. Kemunculan yang berulang dapat membantu brand menjadi lebih familiar bagi target audiens.
Terutama untuk campaign awareness, frekuensi yang cukup dapat membantu meningkatkan kemungkinan audiens mengenali nama, produk, pesan, atau identitas brand.
2. Meningkatkan Peluang Audiens Mengingat Pesan Iklan
Tidak semua orang langsung memperhatikan iklan ketika pertama kali melihatnya. Ada yang sedang scrolling, terburu-buru, atau belum membutuhkan produk tersebut.
Dengan frekuensi yang terkontrol, brand memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan yang sama beberapa kali tanpa harus terus mencari audiens baru.
3. Menghindari Ad Fatigue
Jika iklan ditampilkan terlalu sering kepada audiens yang sama, mereka dapat mengalami ad fatigue. Kondisi ini terjadi ketika audiens mulai bosan atau kehilangan ketertarikan karena terlalu sering melihat iklan yang sama.
Dampaknya bisa terlihat dari penurunan engagement, CTR, conversion rate, atau peningkatan biaya iklan.
4. Membantu Mengontrol Pengeluaran Iklan
Frekuensi yang terlalu tinggi juga dapat membuat budget iklan digunakan untuk terus menjangkau orang yang sama. Padahal, sebagian budget mungkin dapat digunakan untuk memperluas reach atau menguji audiens baru.
Karena itu, memantau frequency dapat membantu brand menggunakan budget secara lebih efisien.
Berapa Kali Audiens Sebaiknya Melihat Iklan?
Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua campaign. Frekuensi iklan yang ideal bergantung pada tujuan campaign, durasi iklan, jenis produk, target audiens, platform, hingga tahap audiens dalam customer journey.
Sebagai gambaran, frekuensi sekitar 2–3 kali dapat menjadi titik awal untuk campaign dengan tujuan awareness. Namun, campaign yang membutuhkan pertimbangan lebih panjang atau ditujukan kepada audiens yang sudah mengenal brand mungkin membutuhkan frekuensi yang berbeda.
Yang lebih penting adalah melihat hubungan antara frequency dengan metrik lainnya.
Misalnya:
Frequency naik, tetapi engagement tetap baik → iklan mungkin masih relevan.
Frequency naik dan CTR mulai turun → audiens mungkin mulai kehilangan ketertarikan.
Frequency tinggi dan conversion ikut turun → perlu dilakukan evaluasi.
Frequency rendah tetapi reach dan awareness belum mencapai target → campaign mungkin membutuhkan distribusi yang lebih luas.
Jadi, jangan menentukan batas frequency hanya berdasarkan angka. Perhatikan respons audiens dan tujuan campaign secara keseluruhan.
Baca Juga: 10 Ide Konten Instagram Faceless yang Menarik dan Mudah Dibuat
Kelola Campaign Influencer dengan Lebih Terarah Bersama IAM.ID
Selain iklan berbayar, influencer marketing dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperluas jangkauan dan membangun interaksi yang lebih relevan dengan audiens. IAM.ID membantu brand menemukan influencer yang sesuai dengan target audiens melalui AI Influencer Matchmaking, sekaligus menyediakan Campaign Management System dan laporan performa untuk membantu memantau hasil campaign.
Dengan pengelolaan campaign yang lebih terstruktur, brand dapat menentukan strategi exposure yang tepat tanpa sekadar mengejar jumlah tayangan. Siap menjalankan campaign influencer yang lebih efektif dan terukur? Mulai campaign Anda bersama IAM.ID. Hubungi kami di sini!



